|
|
Budaya
Jumat, 16 Desember 2011. Rangda adalah ratu dari para leak dalam mitologi Bali. Makhluk yang menakutkan ini diceritakan sering menculik dan memakan anak kecil serta memimpin pasukan penganut sihir jahat melawan Barong, yang merupakan simbol kekuatan baik.
Menurut etimologinya, kata Rangda yang dikenal di Bali berasal dari Bahasa Jawa Kuno yaitu dari kata Randa yang berarti Janda. Rangda adalah sebutan janda dari golongan Tri Wangsa yaitu Waisya, Ksatria, Brahmana. Sedangkan dari golongan Sudra disebut Balu dan kata Balu dalam bahasa Bali alusnya adalah Rangda.
Perkembangan selanjutnya, istilah Rangda untuk janda semakin jarang kita dengar, karena dikhawatirkan menimbulkan kesan tidak enak mengingat wujud Rangda yang 'aeng' (seram) dan menakutkan serta identik dengan orang yang mempunyai ilmu kiri (pengiwa). Hal ini terutama kita dapatkan dalam pertunjukan-pertunjukan cerita rakyat. Dengan kata lain, ada kesan rasa takut, tersinggung dan malu bila dikatakan bisa neluh nerangjana (ngeleak). Sesungguhnya pengertian di atas lebih banyak diilhami cerita-cerita rakyat yang di dalamnya terdapat unsur Rangda. Cerita yang paling besar pengaruhnya adalah Calonarang.
Read more...
Jumat, 16 Desember 2011. Mulai 2012 pembuatan akta kawin akan mengacu pada Undang Undang No 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Bagi umat Hindu yang melangsungkan perkawinan secara adat, pencatatan akta perkawinan akan dilaksanakan di wilayah dimana perkawinan secara adat Bali itu dilakukan.
"Mulai tahun 2012 pencatatan akta perkawinan harus sesuai dengan Undang Undang No 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Dimana peristiwa itu (perkawinan secara adat) terjadi, maka di daerah itu juga yang bersangkutan harus mengurus pencatatan akta perkawinannya," jelas Kepala Bidang Pencatatan Sipil, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Denpasar, Pande Made Sri Artatik Msi di Denpasar (13/12/2011).
Terkait hal ini, Sri berharap agar masyarakat memperhatikan aturan yang berlaku sebelum melakukan pencatatan perkawinan pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.
"Contohnya warga Bali (Hindu) yang melakukan upacara perkawinan di kampung halamannya di Kabupaten Karangasem, tapi KTP atau domisilinya di Denpasar. Maka yang bersangkutan harus melakukan pencatatan akta perkawinan di kantor catatat sipil Kabupaten Karangasem, tidak bisa di Denpasar lagi meski KTP nya di Kota Denpasar," jelasnya.
Sri menyatakan yakin aturan itu tidak akan menghambat proses pencatatan akta perkawinan, karena masing-masing kabupaten/kota sudah mendapatkan sosialisasi terkait pelaksanaan undang undang tersebut. (beritabalidotcom)
Senin, 5 Desember 2011, Internasional Mask Arts and Culture Organization, sebagai lembaga pemerhati dan pelestari seni budaya topeng dunia menilai Kabupaten Buleleng merupakan pusat perkembangan seni topeng di Indonesia.
Buleleng memiliki seni topeng Wayang Wong Tejakula yang mempunyai keunikan dan kekhasan serta tidak ada duanya di dunia, sehingga Internasional Mask Arts and Culture Organization (IMACO) menunjuk Buleleng sebagai tuan rumah pelaksanaan Konfrensi Topeng Sedunia untuk ketiga kalinya setelah Korea Selatan dan Thailand.
Read more...
25 Nopember 2011 | SENI dan budaya adiluhung yang diwariskan leluhur Bali, memiliki taksu dan vibrasi yang luar biasa. Taksu yang lahir dari kreativitas para leluhur inilah yang sampai saat ini dihargai dan dibanggakan dunia internasional, sehingga hasil budi dan karsa ini menghidupkan masyarakat Bali hingga kini. Tekad yang adiluhung pula, mengilhami Pemerintah Kabupaten Buleleng untuk menggelar konferensi topeng internasional, untuk mengangkat dan memperkenalkan kembali berbagai kesenian topeng yang dimiliki bukan di Buleleng saja, namun di seluruh Bali di tingkat internasional, sehingga gaung topeng Bali kembali bersinar.
Read more...
Jumat, 11 November 2011, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi kreatif mengusulkan tari tradisional Bali ke lembaga pendidikan dan kebudayaan dunia (Unesco) untuk mendapatkan pengakuan dunia sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia. Tercatat 7 tarian tradisional Bali yang merupakan tari pelengkap upacara keagamaan yang diajukan seperti tari barong dan tari sanghyang.
Kepala Bidang Dokumentasi dan Publikasi Pusat penelitian dan pengembangan kebudayaan kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Teguh Harisusanto menyatakan tari tradisional Bali yang diusulkan ke Unesco merupakan tari Bali yang sudah ada sejak lama dan keberadaannya tersebar di seluruh Bali. Tari tradisional Bali ini diajukan sebagai representative list intangible culture heritage
Read more...
Selasa, 8 November 2011. Bali pada jaman dahulu kala dikenal sebagai Pulau Dewata. Sebelum kedatangan Majapahit, terdapat sebuah kerajaan yang muncul pertama kali di Bali yaitu sekitar 914 Masehi. Ini diketahui dari sebuah prasasti yang ditemukan di Desa Blanjong Sanur. Prasasti itu berangka tahun 836 saka yang menyebutkan nama rajanya “Khesari Warmadewa” memiliki istana yang ada di Singhadwala.
Khesari Warmadewa adalah Ugrasena pada tahun 915 M - 942 Masehi. Setelah meninggal, Abu dari jenasah dari raja Ugrasena dicandikan di Air Madatu. Ugrasena lalu digantikan oleh Jayasingha Warmadewa (960 M - 975 M). Dalam masa pemerintahannya, raja Jayasingha membangun dua pemandian di Desa Manukaya, yang letaknya sekarang di dekat istana negara Tapak Siring.
Read more...
Selasa, 8 November 2011. Secara etimologi kata Kahyangan Tiga terdiri dari dua kata yaitu kahyangan dan tiga. Kahyangan berasal dari kata hyang yang berarti suci mendapat awalan ka dan akhiran an, an menunjukkan tempat dan tiga artinya tiga. Arti selengkapnya adalah tiga buah tempat suci, yaitu Pura Desa atau disebut pula Pura Bale Agung, Pura Puseh dan yang ketiga adalah Pura Dalem.
Kahyangan Tiga terdapat pada setiap desa Adat di Bali. Apabila jumlah desa Adat di Bali 1456 buah, maka jumlah Pura Kahyangan Tiga akan menjadi tiga kali jumlah desa Adat sehingga menjadi 4368 buah pura. Pada beberapa desa adat di Bali kadang kala penempatan Pura Puseh digabungkan dengan Pura Desa sehingga tampaknya seperti hanya satu pura tetapi sebetulnya adalah tetap dua buah pura.
Read more...
(Senin, 24 Oktober 2011) Urutan adalah sosis tradisional bali yang merupakan salah satu jenis lauk pauk yang dibuat dari usus dan daging serta bumbu. Urutan berbeda dengan sosis dimana urutan permukaannya tidak halus serta panjang urutan bali kadang-kadang mencapai 2 meter tergantung pada panjang usus yang dipakai, dan dibentuk seperti spiral.
Urutan dibuat dari daging babi dan lemak yang dirajang dan dicampur dengan bumbu. Urutan ini ada dua jenis yaitu urutan yang dijemur di bawah sinar matahari (sosis terfermentasi) dan urutan yang setelah selesai dibuat langsung digoreng (sosis nonfermentasi). Urutan biasanya digoreng sampai berwarna kuning kecoklatan.
Read more...
Ketua Perguruan Sandi Murti I Gusti Ngurah Harta menyatakan, ilmu Leak atau ilmu kuno yang diwariskan oleh leluhur Hindu di Bali, tidak susah untuk dipelajari. Jika ada niat disertai pikiran positif, ilmu ini bisa dipelajari siapapun.
"Kalau belajar ngeleak tidak susah. Asal mau dan ada niat itu mudah saja. Satu lagi asal kita berpikir positif. Prosesnya juga tidak begitu lama, tergantung kerajinan dan ketekunannya. Belajar ilmu ini dimana saja bisa asal ada niat," kata Ngurah Harta, saat ditemui di rumahnya, di kawasan Renon Denpasar (12/09/2011).
Bagi pria yang akrab dipanggil Turah ini, Leak merupakan sesuatu hal yang mengasyikan. Keberadaannya pun tidak mengenal istilah baik atau buruk, karena ini semua tergantung dari masyarakat yang memahaminya.
Read more...
Bali sangat layak mendapatkan dana kompensasi budaya dari pemerintah pusat. Mengingat selama ini kebudayaan Bali telah berpuluh-puluh tahun menjadi daya tarik obyek wisata dan memberikan devisa yang cukup besar bagi negara.
Anggota DPR RI asal Bali Nyoman Dhamantra menyatakan, sebagai daerah yang memberikan devisa cukup tinggi sudah selayaknya Bali mendapatkan dana bagi hasil seperti dana perimbangan yang diterima daerah-daerah penghasil sumber daya mineral. Apalagi selama ini kontribusi Bali sepadan dengan daerah penghasil mineral melalui eksplorasi budaya.
Read more...
Upacara mapandes atau potong gigi merupakan simbol pengendalian terhadap Sad Ripu atau enam musuh dalam diri manusia yang meliputi Kama (hawa nafsu),Loba (rakus),Krodha (marah),Mada (mabuk),Moha (bingung),dan Matsarya (iri hati).
Sumber sastra mengenai upacara potong gigi adalah lontar Kala Pati,kala tattwa,Semaradhana,dan sang Hyang Yama.
Dalam lontar kala Pati disebutkan bahwa potong gigi sebagai tanda perubahan status seseorang menjadi manusia sejati, yaitu manusia yang berbudi dan suci sehingga kelak di kemudian hari bila meninggal dunia sang roh dapat bertemu dengan para leluhur di sorga Loka.
Read more...
|
|
|